June 27, 2015

Ramadhan di Negeri Koala

Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tanah rantau bukanlah hal yang baru bagi saya. Hanya saja, tahun ini sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika 2 tahun yang lalu harus mengikuti Kegiatan Ramadhan di salah satu pondok pesantren di Malang karena harus menemani dan membimbing siswa/i SMPI Bani Hasyim, tahun berikutnya saya harus menahan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa di kota dimana Muslim adalah kaum minoritas. Ya, kala itu saya sedang mengikuti Pre-Departure Training di Denpasar selama 6 bulan. Meski menjadi kaum minoritas, musholla dan masjid hampir bisa ditemukan di setiap Banjar (baca: desa) di kota ini. 

Lantas, apa yang membedakannya dengan Ramadhan tahun ini? 

Alhamdulillah… Mimpi untuk belajar di luar negeri dikabulkan olehNya dan saya harus belajar di negeri Koala selama 2 tahun (2015-2016). Itu artinya saya akan hidup jauh dari keluarga, saudara, sanak famili, dan teman-teman dalam jangka waktu yang ‘cukup’ lama. Tentunya, bulan Ramadhan kembali harus dilalui di tanah perantauan bersama teman senasib dan seperjuangan (baca: mahasiswa Indonesia di Australia).

Di awal bulan Ramadhan, keluarga dan juga teman-teman dekat seringkali bertanya, “Bagaimana puasa di Australia?” Tak hanya satu-dua-tiga orang yang melontarkan pertanyaan serupa, mereka begitu penasaran dengan rutinitas Ramadhan di negara tetangga Indonesia ini. Jawaban saya cukup singkat; “tidak begitu terasa”. Menurut saya, tiga kata ini bisa menggambarkan suasana Ramadhan disini. Berikut penjelasannya:


Pertama, tidak begitu terasa karena saat ini di Melbourne, tempat saya menimba ilmu, sedang berada di musim dingin (baca: winter). Ketika winter, siang lebih cepat dan malam semakin panjang. Ini merupakan sebuah nikmat yang luar biasa mengingat banyak negara-negara Eropa, including Swedia, Norwegia, Rusia, etc, yang harus berpuasa lebih dari 20 jam. Tak hanya itu, dibandingkan dengan Indonesia puasa di Australia juga lebih cepat sekitar 2 jam. Alhamdulillah.

Kedua, tidak begitu terasa karena suasana Ramadhan tidak se’meriah’ di Indonesia. Islam adalah agama minoritas dan masjid hanya ada di beberapa pusat daerah. Meskipun budaya “buka bersama” dan “ngabuburit” sudah menjamur disana-sini, kegiatan seperti tadarus Al-Qur’an di masjid, pasar takjil, program TV spesial Ramadhan, dan grebek sahur masih belum saya temukan disini (except tadarus, bisa ditemukan namun tidak disuarakan di speaker masjid). That’s why I miss Indonesia a lot.

Ketiga, tidak begitu terasa karena saya (secara pribadi) merasa bulan ini penuh dengan acara jalan-jalan dan hang-out bersama teman karena ini musim liburan. Bulan penuh berkah yang seharusnya diisi dengan menambah banyak pahala berlalu begitu saja dengan cepat. Menyesal?? Pastinya. Untungnya ibu selalu mengingatkan untuk banyak beribadah. “Nduk, sampun ngaji? Sudah juz berapa?” “Nduk, sudah taraweh?” “Ayo perbanyak Sunnah mumpung bulan puasa” dan masih banyak lagi teguran ibu yang kadangkala saya abaikan. Maafkan anakmu ini, Bu :'((

Belum terlambat untuk berbuat kebaikan, Riya. 20 hari yang tersisa harus lebih baik. Jangan jadikan liburan dan suasana yang berbeda ini sebagai alasan untuk tidak memuliakan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Happy fasting!

No comments:

Post a Comment