Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tanah rantau
bukanlah hal yang baru bagi saya. Hanya saja, tahun ini sungguh berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya. Jika 2 tahun yang lalu harus mengikuti Kegiatan
Ramadhan di salah satu pondok pesantren di Malang karena harus menemani dan
membimbing siswa/i SMPI Bani Hasyim, tahun berikutnya saya harus menahan makan,
minum dan hal-hal yang membatalkan puasa di kota dimana Muslim adalah kaum
minoritas. Ya, kala itu saya sedang mengikuti Pre-Departure Training di
Denpasar selama 6 bulan. Meski menjadi kaum minoritas, musholla dan masjid
hampir bisa ditemukan di setiap Banjar (baca: desa) di kota ini.
Lantas, apa yang membedakannya dengan Ramadhan tahun ini?
Alhamdulillah… Mimpi untuk belajar di luar negeri
dikabulkan olehNya dan saya harus belajar di negeri Koala selama 2 tahun
(2015-2016). Itu artinya saya akan hidup jauh dari keluarga, saudara, sanak
famili, dan teman-teman dalam jangka waktu yang ‘cukup’ lama. Tentunya, bulan
Ramadhan kembali harus dilalui di tanah perantauan bersama teman senasib dan
seperjuangan (baca: mahasiswa Indonesia di Australia).
Di awal bulan Ramadhan, keluarga dan juga teman-teman
dekat seringkali bertanya, “Bagaimana puasa di Australia?” Tak hanya
satu-dua-tiga orang yang melontarkan pertanyaan serupa, mereka begitu penasaran
dengan rutinitas Ramadhan di negara tetangga Indonesia ini. Jawaban saya cukup
singkat; “tidak begitu terasa”. Menurut saya, tiga kata ini bisa menggambarkan
suasana Ramadhan disini. Berikut penjelasannya:
Pertama, tidak begitu terasa
karena saat ini di Melbourne, tempat saya menimba ilmu, sedang berada di musim
dingin (baca: winter). Ketika winter, siang lebih cepat dan malam semakin panjang.
Ini merupakan sebuah nikmat yang luar biasa mengingat banyak negara-negara
Eropa, including Swedia, Norwegia, Rusia, etc, yang harus berpuasa lebih dari
20 jam. Tak hanya itu, dibandingkan dengan Indonesia puasa di Australia juga
lebih cepat sekitar 2 jam. Alhamdulillah.
Kedua, tidak begitu terasa
karena suasana Ramadhan tidak se’meriah’ di Indonesia. Islam adalah agama
minoritas dan masjid hanya ada di beberapa pusat daerah. Meskipun budaya “buka
bersama” dan “ngabuburit” sudah menjamur disana-sini, kegiatan seperti tadarus
Al-Qur’an di masjid, pasar takjil, program TV spesial Ramadhan, dan grebek
sahur masih belum saya temukan disini (except tadarus, bisa ditemukan namun
tidak disuarakan di speaker masjid). That’s why I miss Indonesia a lot.
Ketiga, tidak begitu terasa
karena saya (secara pribadi) merasa bulan ini penuh dengan acara jalan-jalan
dan hang-out bersama teman karena ini musim liburan. Bulan penuh berkah yang
seharusnya diisi dengan menambah banyak pahala berlalu begitu saja dengan cepat.
Menyesal?? Pastinya. Untungnya ibu selalu mengingatkan untuk banyak beribadah.
“Nduk, sampun ngaji? Sudah juz berapa?” “Nduk, sudah taraweh?” “Ayo perbanyak
Sunnah mumpung bulan puasa” dan masih banyak lagi teguran ibu yang kadangkala
saya abaikan. Maafkan anakmu ini, Bu :'((
Belum terlambat untuk berbuat kebaikan, Riya. 20 hari
yang tersisa harus lebih baik. Jangan jadikan liburan dan suasana yang berbeda
ini sebagai alasan untuk tidak memuliakan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
Happy fasting!
No comments:
Post a Comment