Assalamualaikum..
Selamat pagi teman-teman pemburu beasiswa..
Selamat berpuasa bagi yang menjalankan..
Sebelum membahas mengenai beasiswa AAS, saya ingin berbagi sedikit cerita
tentang petualangan saya berburu beasiswa luar negeri dengan harapan semoga
bisa memberikan sedikit motivasi bagi teman-teman yang sedang berjuang ataupun
masih dalam tahap bermimpi untuk mendapatkan beasiswa.
Bermula dari impian untuk belajar di luar negeri, selama menjadi mahasiswa
UIN Maliki Malang saya paling rajin apply berbagai macam short courses seperti Indonesia
English Language Study Program (IELSP) yang menawarkan kursus
Bahasa Inggris di universitas Amerika Serikat selama 8 minggu
dan program pertukaran pemuda antar negara seperti PCMI Jatim. Namun sayangnya,
kurang lebih 2 kali mendaftar saya hanya bisa lolos di tahap awal (seleksi
administrasi). Saya tetap bersyukur, meskipun saya belum bisa berangkat ke luar
negeri, saya mendapatkan banyak teman selama proses wawancara. Ya, sayapun
turut bahagia dan bangga jika ada salah satu dari mereka akhirnya bisa lolos.
Setelah wisuda di bulan Oktober 2011, impian untuk keluar negeri agak
“sedikit” mengendur karena saya mulai berpikir tentang pekerjaan. Saya
menyadari bahwa untuk melanjutkan kuliah S2, biaya yang dibutuhkan tidaklah
sedikit dan saya malu untuk terus meminta “uang saku” dari orang tua mengingat
adik laki-laki saya juga akan melanjutkan study di perguruan tinggi. Namun
tetap saja, sebagai manusia biasa perasaan iri seringkali hinggap di dalam
benak saya ketika melihat teman-teman seperjuangan bisa melanjutkan kuliah ke
jenjang yang lebih tinggi. Kala itu, saya terus meyakini bahwa everything
happens for a reason atau bahasa kerennya pasti ada hikmah di balik
semua ini. Always positif thinking karena sesungguhnya rencana-Nya jauh lebih
indah dari apa yang kita bayangkan.
Suatu hari, salah satu teman mengajak saya untuk menjadi volunteer di
program pertukaran pelajar untuk siswa/i SMA, Bina Antarbudaya AFS Chapter
Malang. Saya langsung mengiyakan tawaran itu karena saya tidak mau larut dalam
kesedihan gara-gara tidak bisa lanjut kuliah. Sebagai volunteer, tugas saya
adalah mewawancarai para kandidat yang berasal dari beberapa sekolah di Malang,
Blitar, Pasuruan, Pandaan, Probolinggo, dan Madiun. Pengalaman yang sangat
mengesankan ketika saya tahu apa motivasi mereka mengikuti program ini dan
banyak pelajaran yang saya ambil dari “kepolosan” jawaban mereka. Mereka adalah
anak-anak yang punya mimpi dan tidak takut untuk menggapai mimpi-mimpi mereka.
Sejak saat itu, impian sayapun mulai menggebu kembali. “Saya harus kuliah
S2 di luar negeri!” begitu tekad saya dalam hati.
Di waktu yang sama, saya juga mulai aktif di kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh PCNU kota Malang. Karena orang tua saya adalah warga
Nahdliyyin, sayapun terlibat dalam kepengurusan IPPNU. Subhanallah.. Allah
memang Maha Mendengar. Beberapa hari setelah pelantikan, melalui websitenya,
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa ada kesempatan bagi
sarjana NU untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia dan Amerika.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, saya langsung mendaftar meskipun
saat itu belum terpikirkan negara mana yang akan saya pilih untuk beasiswa
Master ini. Dengan izin dan doa dari orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk
memilih beasiswa Australia yang tak lain adalah Australia Awards Scholarship
(dulu disebut ADS, Australian Development Scholarship).
Karena saya berasal dari open category, berdasarkan informasi dari salah
satu staf IDP Malang (nama dirahasiakan) peluang saya sangatlah kecil
karena beasiswa ini lebih diperuntukkan bagi PNS (public category). Beasiswa
ini juga menekankan adanya gender equality yang mana proporsi male and female
50:50. Tak hanya itu, pelamar dari targeted area (Aceh, NTT, NTB, Papua, Papua
Barat) memiliki peluang yang lebih besar dan diutamakan. Berita ini tentu saja
membuat saya pesimis dan berkecil hati. Namun dengan support dan bantuan dari
dosen saya yang juga alumni ADS, Pak Buhanudin Syaifulloh dan Bu Faizah
Istiqomah, saya persiapkan seluruh dokumen persyaratan dengan baik dan berhasil
lolos ke tahap berikutnya (IELTS dan wawancara).
Berikut persyaratan umum untuk apply AAS:
- Usia maksimal 42 tahun (saat
mendaftar)
- Memiliki IPK minimal 2.9
- Nilai TOEFL minimal 500 untuk
pelamar Master dan 600 untuk pelamar PhD. (Biasanya diminta hasil
terbaru dan menyertakan sertifikat asli. Hasil TOEFL prediksi tidak akan
diterima)
- Jika mendaftar Master by research
dan PhD, pelamar sudah harus memiliki research proposal dan dianjurkan
sudah menghubungi salah satu dosen Australia untuk menjadi
supervisor.
Dokumen yang wajib dilampirkan (compulsory):
- Copy akta kelahiran
- Copy KTP/paspor
- Curriculum Vitae
- Copy Ijazah dan transkrip nilai
(dilegalisir)
Dokumen pendukung (optional):
- Sertifikat penghargaan
- Sertifikat keikutsertaan dalam
acara
- Copy publikasi karya ilmiah
- Surat rekomendasi (bisa dari
dosen, organisasi, atau lembaga dimana kita bekerja). Karena saat itu
saya lewat jalur PBNU, maka surat rekomendasi dari ketua PBNU Pusat.
Melihat dokumen-dokumen yang harus dipenuhi diatas, sebenarnya tidaklah
sulit dan hampir sama dengan persyaratan beasiswa lain. Setelah melengkapi
semua persyaratan, yang tak kalah penting adalah mengisi application form (bisa
didownload di http://www.australiaawardsindonesia.org/). Karena
dalam form ini kita harus menuliskan 2 nama universitas Australia yang akan
kita pilih, kita harus rajin mencari informasi baik dari website mereka atau
sharing sesama teman yang juga sedang memburu beasiswa.
Dalam memilih course (jurusan), usahakan memilih yang relevan dengan
background akademik dan pekerjaan sekarang (jika sudah bekerja). Untuk yang
belum bekerja, jangan minder! Kesempatan untuk lolos masih tetap ada as long as
kalian bisa meyakinkan bahwa setelah selesai study kalian akan memberikan
kontribusi yang pasti untuk pembangunan negeri kita tercinta. Ada baiknya juga
sebelum dikirim ke AAS Office, kita minta bantuan senior atau dosen untuk
mengoreksi jawaban kita (bukan berarti meminta jawaban yah). Ini semacam proof
read apakah tulisan kita bisa dimengerti dengan mudah? apakah kita
sudah menjawab pertanyaan? Apakah sudah benar grammar yang kita pakai? dst.
Setelah semua dokumen dilengkapi, sangat dianjurkan untuk membuat copyan
sebanyak 3 (1 asli dan 2 copy untuk dikirim ke AAS, 1 copy lagi untuk koleksi
kita persiapan untuk wawancara). Yeeey, selalu yakin bahwa kita akan lolos ke
tahap berikutnya :)
While we are waiting for the announcement (biasanya diumumkan bulan
Desember), yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk wawancara dan
IELTS sekaligus berdoa. Sekali lagi, kita bisa bertanya ke senior atau dosen
alumni AAS tentang pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul ketika interview.
Meskipun interviewer berbeda tiap tahunnya, saya yakin mereka memiliki daftar
pertanyaan yang sama. Selain itu, ada banyak blog yang berisi tentang
pengalaman interview AAS, just go googling and practice! Yang pasti, semua
pertanyaan akan berhubungan dengan apa yang kita tulis di application form. So,
don’t worry too much!
Bagi yang belum pernah tahu seperti apa tes IELTS, wajib hukumnya untuk
mengikuti simulasi IELTS (saat itu saya ikut di IDP Malang dan gratis).
Setidaknya mengetahui gambaran seperti apa tes IELTS itu karena tes ini
sangatlah berbeda dengan TOEFL. Contohnya, pada listening section, peserta
harus mengisi jawaban bersamaan dengan audio diputar. Ada instruksi di awal
bahwa audio ini untuk soal nomor sekian sampai sekian, namun tidak ada indikasi
perpindahan dari nomor satu ke nomor berikutnya. Oleh karena itu, teruslah
belajar dan terbiasa dengan Bahasa Inggris mulai dari sekarang. Biasakan
telinga dengan pembicaraan Bahasa Inggris baik lewat film tanpa subtitle, radio
BBC, ABC, maupun lewat video youtube. Juga mulailah membaca apapun dalam Bahasa
Inggris bisa dari koran online, majalah, jurnal, novel, komik dan lainnya.
Semua ini akan membantu kalian dalam mempersiapkan tes IELTS nantinya. Berikut
link yang sering saya kunjungi untuk belajar IELTS mandiri dan menurut saya ini
sangatlah membantu http://ielts-simon.com/, http://www.ielts-blog.com/,
dan http://www.ieltsbuddy.com/IELTS-blog.html.
Dan pada akhirnya, karena mendapat beasiswa itu adalah
perlombaan diantara ribuan orang dengan tujuan yang sama, penting juga untuk
menyerahkan semua usaha kita kepada Sang Maha Pengatur. Jika ini adalah yang
terbaik, yakinlah semua akan dimudahkan oleh-Nya. Terus berdoa dan
berusaha!
*Materi ini saya sampaikan di Kuliah Online (KULON) #10 yang diadakan
oleh PBEC Malang
No comments:
Post a Comment