June 20, 2015

Kuliah Online #10

Assalamualaikum..
Selamat pagi teman-teman pemburu beasiswa..
Selamat berpuasa bagi yang menjalankan..

Sebelum membahas mengenai beasiswa AAS, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang petualangan saya berburu beasiswa luar negeri dengan harapan semoga bisa memberikan sedikit motivasi bagi teman-teman yang sedang berjuang ataupun masih dalam tahap bermimpi untuk mendapatkan beasiswa. 

Bermula dari impian untuk belajar di luar negeri, selama menjadi mahasiswa UIN Maliki Malang saya paling rajin apply berbagai macam short courses seperti Indonesia English Language Study Program (IELSP) yang menawarkan kursus Bahasa Inggris di universitas Amerika Serikat selama 8 minggu dan program pertukaran pemuda antar negara seperti PCMI Jatim. Namun sayangnya, kurang lebih 2 kali mendaftar saya hanya bisa lolos di tahap awal (seleksi administrasi). Saya tetap bersyukur, meskipun saya belum bisa berangkat ke luar negeri, saya mendapatkan banyak teman selama proses wawancara. Ya, sayapun turut bahagia dan bangga jika ada salah satu dari mereka akhirnya bisa lolos.

Setelah wisuda di bulan Oktober 2011, impian untuk keluar negeri agak “sedikit” mengendur karena saya mulai berpikir tentang pekerjaan. Saya menyadari bahwa untuk melanjutkan kuliah S2, biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit dan saya malu untuk terus meminta “uang saku” dari orang tua mengingat adik laki-laki saya juga akan melanjutkan study di perguruan tinggi. Namun tetap saja, sebagai manusia biasa perasaan iri seringkali hinggap di dalam benak saya ketika melihat teman-teman seperjuangan bisa melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Kala itu, saya terus meyakini bahwa everything happens for a reason atau bahasa kerennya pasti ada hikmah di balik semua ini. Always positif thinking karena sesungguhnya rencana-Nya jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan.

Suatu hari, salah satu teman mengajak saya untuk menjadi volunteer di program pertukaran pelajar untuk siswa/i SMA, Bina Antarbudaya AFS Chapter Malang. Saya langsung mengiyakan tawaran itu karena saya tidak mau larut dalam kesedihan gara-gara tidak bisa lanjut kuliah. Sebagai volunteer, tugas saya adalah mewawancarai para kandidat yang berasal dari beberapa sekolah di Malang, Blitar, Pasuruan, Pandaan, Probolinggo, dan Madiun. Pengalaman yang sangat mengesankan ketika saya tahu apa motivasi mereka mengikuti program ini dan banyak pelajaran yang saya ambil dari “kepolosan” jawaban mereka. Mereka adalah anak-anak yang punya mimpi dan tidak takut untuk menggapai mimpi-mimpi mereka. Sejak saat itu, impian sayapun mulai menggebu kembali. “Saya harus kuliah S2 di luar negeri!” begitu tekad saya dalam hati.

Di waktu yang sama, saya juga mulai aktif di kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PCNU kota Malang. Karena orang tua saya adalah warga Nahdliyyin, sayapun terlibat dalam kepengurusan IPPNU. Subhanallah.. Allah memang Maha Mendengar. Beberapa hari setelah pelantikan, melalui websitenya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa ada kesempatan bagi sarjana NU untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia dan Amerika. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, saya langsung mendaftar meskipun saat itu belum terpikirkan negara mana yang akan saya pilih untuk beasiswa Master ini. Dengan izin dan doa dari orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk memilih beasiswa Australia yang tak lain adalah Australia Awards Scholarship (dulu disebut ADS, Australian Development Scholarship).

Karena saya berasal dari open category, berdasarkan informasi dari salah satu staf IDP Malang (nama dirahasiakan) peluang saya sangatlah kecil karena beasiswa ini lebih diperuntukkan bagi PNS (public category). Beasiswa ini juga menekankan adanya gender equality yang mana proporsi male and female 50:50. Tak hanya itu, pelamar dari targeted area (Aceh, NTT, NTB, Papua, Papua Barat) memiliki peluang yang lebih besar dan diutamakan. Berita ini tentu saja membuat saya pesimis dan berkecil hati. Namun dengan support dan bantuan dari dosen saya yang juga alumni ADS, Pak Buhanudin Syaifulloh dan Bu Faizah Istiqomah, saya persiapkan seluruh dokumen persyaratan dengan baik dan berhasil lolos ke tahap berikutnya (IELTS dan wawancara).

Berikut persyaratan umum untuk apply AAS:
  1. Usia maksimal 42 tahun (saat mendaftar)
  2. Memiliki IPK minimal 2.9
  3. Nilai TOEFL minimal 500 untuk pelamar Master dan 600 untuk pelamar PhD. (Biasanya diminta hasil terbaru dan menyertakan sertifikat asli. Hasil TOEFL prediksi tidak akan diterima)
  4. Jika mendaftar Master by research dan PhD, pelamar sudah harus memiliki research proposal dan dianjurkan sudah menghubungi salah satu dosen Australia untuk menjadi   supervisor.
Dokumen yang wajib dilampirkan (compulsory):
  1. Copy akta kelahiran
  2. Copy KTP/paspor
  3. Curriculum Vitae
  4. Copy Ijazah dan transkrip nilai (dilegalisir)
Dokumen pendukung (optional):
  1. Sertifikat penghargaan
  2. Sertifikat keikutsertaan dalam acara
  3. Copy publikasi karya ilmiah
  4. Surat rekomendasi (bisa dari dosen, organisasi, atau lembaga dimana kita bekerja). Karena saat itu saya lewat jalur PBNU, maka surat rekomendasi dari ketua PBNU Pusat.
Melihat dokumen-dokumen yang harus dipenuhi diatas, sebenarnya tidaklah sulit dan hampir sama dengan persyaratan beasiswa lain. Setelah melengkapi semua persyaratan, yang tak kalah penting adalah mengisi application form (bisa didownload di http://www.australiaawardsindonesia.org/). Karena dalam form ini kita harus menuliskan 2 nama universitas Australia yang akan kita pilih, kita harus rajin mencari informasi baik dari website mereka atau sharing sesama teman yang juga sedang memburu beasiswa. 

Dalam memilih course (jurusan), usahakan memilih yang relevan dengan background akademik dan pekerjaan sekarang (jika sudah bekerja). Untuk yang belum bekerja, jangan minder! Kesempatan untuk lolos masih tetap ada as long as kalian bisa meyakinkan bahwa setelah selesai study kalian akan memberikan kontribusi yang pasti untuk pembangunan negeri kita tercinta. Ada baiknya juga sebelum dikirim ke AAS Office, kita minta bantuan senior atau dosen untuk mengoreksi jawaban kita (bukan berarti meminta jawaban yah). Ini semacam proof read apakah tulisan kita bisa dimengerti dengan mudah? apakah kita sudah menjawab pertanyaan? Apakah sudah benar grammar yang kita pakai? dst.

Setelah semua dokumen dilengkapi, sangat dianjurkan untuk membuat copyan sebanyak 3 (1 asli dan 2 copy untuk dikirim ke AAS, 1 copy lagi untuk koleksi kita persiapan untuk wawancara). Yeeey, selalu yakin bahwa kita akan lolos ke tahap berikutnya :)

While we are waiting for the announcement (biasanya diumumkan bulan Desember), yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk wawancara dan IELTS sekaligus berdoa. Sekali lagi, kita bisa bertanya ke senior atau dosen alumni AAS tentang pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul ketika interview. Meskipun interviewer berbeda tiap tahunnya, saya yakin mereka memiliki daftar pertanyaan yang sama. Selain itu, ada banyak blog yang berisi tentang pengalaman interview AAS, just go googling and practice! Yang pasti, semua pertanyaan akan berhubungan dengan apa yang kita tulis di application form. So, don’t worry too much!

Bagi yang belum pernah tahu seperti apa tes IELTS, wajib hukumnya untuk mengikuti simulasi IELTS (saat itu saya ikut di IDP Malang dan gratis). Setidaknya mengetahui gambaran seperti apa tes IELTS itu karena tes ini sangatlah berbeda dengan TOEFL. Contohnya, pada listening section, peserta harus mengisi jawaban bersamaan dengan audio diputar. Ada instruksi di awal bahwa audio ini untuk soal nomor sekian sampai sekian, namun tidak ada indikasi perpindahan dari nomor satu ke nomor berikutnya. Oleh karena itu, teruslah belajar dan terbiasa dengan Bahasa Inggris mulai dari sekarang. Biasakan telinga dengan pembicaraan Bahasa Inggris baik lewat film tanpa subtitle, radio BBC, ABC, maupun lewat video youtube. Juga mulailah membaca apapun dalam Bahasa Inggris bisa dari koran online, majalah, jurnal, novel, komik dan lainnya. Semua ini akan membantu kalian dalam mempersiapkan tes IELTS nantinya. Berikut link yang sering saya kunjungi untuk belajar IELTS mandiri dan menurut saya ini sangatlah membantu http://ielts-simon.com/http://www.ielts-blog.com/, dan http://www.ieltsbuddy.com/IELTS-blog.html

Dan pada akhirnya, karena mendapat beasiswa itu adalah perlombaan diantara ribuan orang dengan tujuan yang sama, penting juga untuk menyerahkan semua usaha kita kepada Sang Maha Pengatur. Jika ini adalah yang terbaik, yakinlah semua akan dimudahkan oleh-Nya. Terus berdoa dan berusaha!

*Materi ini saya sampaikan di Kuliah Online (KULON) #10 yang diadakan oleh PBEC Malang

No comments:

Post a Comment