June 1, 2012

Akhir Cinta di Kereta Senja

I’ll be back..
Neon dashi nareul chajeul geoya
Geuttae dashi naega ol geoya
Geu nugudo neoreul naboda sarang hal sun eopgie

14 Mei 2012, 13.00 WIB
Tiba di stasiun Pasar Senen. Dengan membawa sebuah tas ransel yang terlihat penuh dan satu tas plastik berisikan makan siang aku berjalan menuju petugas yang sedang berjaga di dekat pintu masuk. Langsung ku sodorkan tiket yang sudah ku pesan 4 hari yang lalu.
“Silahkan tunggu dulu mbak, setengah jam lagi,” ujarnya.
“Terima kasih, pak.”
Aku segera keluar dari barisan karena tanpa ku sadari banyak orang yang antre di belakangku. Ruang tunggu begitu ramai dipenuhi para penumpang yang sedang menunggu pemberangkatan kereta. Tak ada satupun kursi tersisa. Akhirnya ku putuskan untuk keluar dan mencari tampat yang pas untuk menyantap bekal makan siang yang ku bawa.

14 Mei 2012, 13.45 WIB
Kereta Senja yang akan membawaku kembali ke kampung halaman siap diberangkatkan. Kereta mulai bergerak perlahan-lahan setelah terdengar bunyi sirine dan lambaian dari salah seorang petugas stasiun.
“Selamat tinggal Jakarta,” ucapku dalam hati.

15 Mei 2012, 03:00 WIB
Hawa dingin yang merayap masuk menerobos ventilasi kereta cukup membuatku merinding dan akhirnya membangunkanku. Aku lirik orang-orang yang ada di kanan kiri, mereka masih tetap terjaga di alam bawah sadarnya. Tak terusik sedikitpun oleh hawa dingin yang mampu membuat bulu ini berdiri.
Ku coba pejamkan mata namun tak sanggup, begitu banyak kenangan-kenangan yang menari-nari di pikiranku. Berat rasanya meninggalkan kota panas ini. Entah apa yang membuatku ingin beberapa hari lagi tinggal di kota ini. Aku masih ingat, dulu awal aku tiba disini aku ingin segera kembali ke kampung halaman. Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan atmosphere dan over population yang begitu memprihatinkan. Polusi dan macet adalah dua hal yang selalu setia menemani setiap sudut kota. Sungguh sesuatu yang sangat berbeda dengan kota kelahiranku.
Di sisi lain, aku terhipnotis dengan setiap moment yang ku lalui. Hidup bersama keluarga yang begitu ramah dan agamis cukup membuatku betah berlama-lama tinggak disini. Bertemu dengan berbagai macam orang dari suku, etnis, dan agama yang berbeda sedikit banyak memberikan warna yang indah bagiku. Ditambah dengan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah yang semakin membuatku berat meninggalkan kota ini.

15 Mei 2012, 04:30 WIB
Tiba-tiba tersentak bangun (dari tidur yang tanpa disengaja), banyak para pedagang berlalu lalang melewati deretan gerbong sambil menjajakan dagangannya. “Yang anget, yang anget, pop-mie, kopi.” “Nasi kuning, nasi kuning, tiga ribu.” “Sale pisang, sale pisang.” “Gethuk Kediri, gethuk Kediri.” de el el... Mereka berteriak bak para pendemo yang sedang unjuk gigi menolak kenaikan harga BBM. Semua penumpang spontan banyak yang dengan terpaksa membuka matanya melihat gerangan apa yang membuat mereka bangun.

15 Mei 2012, 06:00 WIB
Terdengar dering HP yang tidak asing lagi, bunyi tanda pesan masuk. Ku periksa HPku, ternyata benar, satu pesan masuk dari My Mom; Dah nyampe mana nduk?
Sepertinya ibu sedang gelisah menunggu kedatanganku. Tanpa pikir panjang segera ku balas pesan singkat tersebut; Niki sampun ten Blitar buk, mungkin 1 jam lagi nyampek Kepanjen.
Beberapa menit kemudian ibupun membalas; Ayah dah berangkat ke stasiun, pean turun di Panjen lho ya?
Nggeh buk, jawabku singkat.

15 Mei 2012, 07:30 WIB
Budaya “mengaret” di negeri ini ternyata menjamur dimana-mana, tak hanya big event saja yang bisa menunda jam tayangnya, keretapun bisa berjam-jam “melelet” dari jam yang sudah dijadwalkan.
“Seharusnya ini kan nyampek stasiun Malang jam 7, ini kok masih nyampek Sumber Pucung?” tanyaku dalam hati dengan agak sedikit jengkel.
Hmmm, ya sudahlah. Yang penting bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat dan bisa bersua lagi dengan keluarga. Aku berusaha menghibur diri sendiri.

15 Mei 2012, 07:50 WIB
Kereta berhenti di stasiun Kepanjen. Langsung ku raih tas ranselku dan berjabat tangan dengan sahabat seperjuanganku.
“Aku turun dulu ya, hati-hati kebablasan, hehe,” ucapku padanya.
“Iya say, salam buat keluarga,” timpalnya.
Ku langkahkan kaki menuju pintu gerbong. Dan..
Akhirnya, sampai disini kisah perjalananku bersama kereta Senja. Aku hela nafas yang panjang sembari memandangi kereta yang mulai bersiap-siap menuju stasiun berikutnya. Ku lambaikan tanganku pada sahabatku yang memandangiku dari jendela kereta.

Terima kasih Tuhan, Engkau berikan aku kesempatan yang berharga ini..

No comments:

Post a Comment