I’ll be back..
Neon dashi nareul chajeul geoya
Geuttae dashi naega ol geoya
Geu nugudo neoreul naboda sarang hal sun eopgie
14 Mei 2012, 13.00 WIB
Tiba di stasiun Pasar Senen. Dengan membawa sebuah tas
ransel yang terlihat penuh dan satu tas plastik berisikan makan siang aku
berjalan menuju petugas yang sedang berjaga di dekat pintu masuk. Langsung ku
sodorkan tiket yang sudah ku pesan 4 hari yang lalu.
“Silahkan tunggu dulu mbak, setengah jam lagi,” ujarnya.
“Terima kasih, pak.”
Aku segera keluar dari barisan karena tanpa ku sadari
banyak orang yang antre di belakangku. Ruang tunggu begitu ramai dipenuhi para
penumpang yang sedang menunggu pemberangkatan kereta. Tak ada satupun kursi
tersisa. Akhirnya ku putuskan untuk keluar dan mencari tampat yang pas untuk
menyantap bekal makan siang yang ku bawa.
14 Mei 2012, 13.45 WIB
Kereta Senja yang akan membawaku kembali ke kampung
halaman siap diberangkatkan. Kereta mulai bergerak perlahan-lahan setelah
terdengar bunyi sirine dan lambaian dari salah seorang petugas stasiun.
“Selamat tinggal Jakarta,” ucapku dalam hati.
15 Mei 2012, 03:00 WIB
Hawa dingin yang merayap masuk menerobos ventilasi
kereta cukup membuatku merinding dan akhirnya membangunkanku. Aku lirik
orang-orang yang ada di kanan kiri, mereka masih tetap terjaga di alam bawah
sadarnya. Tak terusik sedikitpun oleh hawa dingin yang mampu membuat bulu ini
berdiri.
Ku coba pejamkan mata namun tak sanggup, begitu banyak
kenangan-kenangan yang menari-nari di pikiranku. Berat rasanya meninggalkan
kota panas ini. Entah apa yang membuatku ingin beberapa hari lagi tinggal di
kota ini. Aku masih ingat, dulu awal aku tiba disini aku ingin segera kembali
ke kampung halaman. Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan atmosphere dan
over population yang begitu memprihatinkan. Polusi dan macet adalah dua
hal yang selalu setia menemani setiap sudut kota. Sungguh sesuatu yang sangat
berbeda dengan kota kelahiranku.
Di sisi lain, aku terhipnotis dengan setiap moment yang
ku lalui. Hidup bersama keluarga yang begitu ramah dan agamis cukup membuatku
betah berlama-lama tinggak disini. Bertemu dengan berbagai macam orang dari
suku, etnis, dan agama yang berbeda sedikit banyak memberikan warna yang indah
bagiku. Ditambah dengan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah yang semakin
membuatku berat meninggalkan kota ini.
15 Mei 2012, 04:30 WIB
Tiba-tiba tersentak bangun (dari tidur yang tanpa disengaja),
banyak para pedagang berlalu lalang melewati deretan gerbong sambil menjajakan
dagangannya. “Yang anget, yang anget, pop-mie, kopi.” “Nasi kuning, nasi
kuning, tiga ribu.” “Sale pisang, sale pisang.” “Gethuk Kediri, gethuk Kediri.”
de el el... Mereka berteriak bak para pendemo yang sedang unjuk gigi menolak
kenaikan harga BBM. Semua penumpang spontan banyak yang dengan terpaksa membuka
matanya melihat gerangan apa yang membuat mereka bangun.
15 Mei 2012, 06:00 WIB
Terdengar dering HP yang tidak asing lagi, bunyi tanda
pesan masuk. Ku periksa HPku, ternyata benar, satu pesan masuk dari My Mom; Dah
nyampe mana nduk?
Sepertinya ibu sedang gelisah menunggu kedatanganku.
Tanpa pikir panjang segera ku balas pesan singkat tersebut; Niki sampun ten
Blitar buk, mungkin 1 jam lagi nyampek Kepanjen.
Beberapa menit kemudian ibupun membalas; Ayah dah
berangkat ke stasiun, pean turun di Panjen lho ya?
Nggeh buk, jawabku singkat.
15 Mei 2012, 07:30 WIB
Budaya “mengaret” di negeri ini ternyata menjamur
dimana-mana, tak hanya big event saja yang bisa menunda jam tayangnya,
keretapun bisa berjam-jam “melelet” dari jam yang sudah dijadwalkan.
“Seharusnya ini kan nyampek stasiun Malang jam 7, ini
kok masih nyampek Sumber Pucung?” tanyaku dalam hati dengan agak sedikit
jengkel.
Hmmm, ya sudahlah. Yang penting bisa kembali ke kampung
halaman dengan selamat dan bisa bersua lagi dengan keluarga. Aku berusaha
menghibur diri sendiri.
15 Mei 2012, 07:50 WIB
Kereta berhenti di stasiun Kepanjen. Langsung ku raih
tas ranselku dan berjabat tangan dengan sahabat seperjuanganku.
“Aku turun dulu ya, hati-hati kebablasan, hehe,” ucapku padanya.
“Aku turun dulu ya, hati-hati kebablasan, hehe,” ucapku padanya.
“Iya say, salam buat keluarga,” timpalnya.
Ku langkahkan kaki menuju pintu gerbong. Dan..
Akhirnya, sampai disini kisah perjalananku bersama
kereta Senja. Aku hela nafas yang panjang sembari memandangi kereta yang mulai
bersiap-siap menuju stasiun berikutnya. Ku lambaikan tanganku pada sahabatku
yang memandangiku dari jendela kereta.
Terima kasih Tuhan, Engkau berikan aku kesempatan yang
berharga ini..
No comments:
Post a Comment